My world is not just an ordinary world and i know my words aren't enough to describe its extraordinary. But at least, i'm trying to describe it so i can share it with you.
Rabu, 30 Desember 2015
My Gratitudes for 2015
Hello,
2015 is almost finish! I couldn't believe time's running so fast for this year..
Now I'm enjoying my holiday after the 1st semester in master's degree (and this could be my last long holiday before i finish my master's degree :scream).
I'm actually kinda regret this holiday since i don't have enough money to travel while i have many places to go on my bucket list (sob T.T), so i choose to use my super-fast-Internet-connection at home to browse anything! Yippie!
In the middle of browsing (and kepo-ing - if you know what i mean :P), i found a really inspiring article that tells us what to do to increase happiness in new year.
Here's the article:
https://www.psychologytoday.com/blog/friendship-20/201512/do-one-thing-increased-happiness-in-the-new-year
Okay, I know you're too lazy to read it so I'll just sum it for you.
One thing that we can do to increase happiness is expressing gratitude.
Yes, it's so simple. Why? Just read the article, don't be lazy -_-"
Since I'm a member of gen Y (so I prefer to use blog or socmed rather than a diary book - but I also have a diary book lol), I choose to express my gratitude here. There are soooo many great things in this year but I picked the most gratitude experiences in 2015. So here we go.
1.JAPAN!!! JAPAN!!! JAPAN!!!
It really is a dream comes true!! I wanted to go to Japan since i was in elementary school (12 yrs old) and that dream came true after i graduated from bachelor degree (23 yrs old)! To accomplish this dream, I worked when i was still a bachelor student (as a teacher, joining someone's project, and so on).
I still can remember my first impression when i felt Japan's air (shockingly breezing since it's winter :P). This was my first time going overseas, so I was very very excited when i arrived at Japan. This was also the first time I've seen snow! I thought snow would be fluffy like cotton, it turns out so hard like 'shredded' ice blocks -_-
I really love Japan, especially Kobe city. People are so nice there, they talked to me even when they knew i couldn't speak Japanese, they tried to talk slowly with exaggerating body language to make me understand them :D
I'm so grateful i could visit Japan, met really nice people there, ate delicious and healthy foods, also visited wonderful places in Japan. I hope someday i can go back to Japan. Doumo arigato goizaimasu~
2. Back to School : Graduate Student in Educational Psychology Profession
I wanted to be a psychologist. Not just a bachelor in psychology, but a PSYCHOLOGIST. I am so grateful that I have the opportunity to apply master's degree in Universitas Indonesia to be a psychologist. Since i really love education, I applied educational psychology program.
There are only 13 students in this program and women's force is strong in here. No man in this program! ;D
Who run this program? Girls!
Who run this program? Girls!
Who run this **** program? Girls!
In the first semester, we mostly relearn the subjects from bachelor program (research methods, measurements, statistics). For me, the challenge is not only in re-learning the subjects, but also cooperating with other students. FYI, I never cooperate with them before, furthermore, I never know most of them before we attend this program.
Even though I faced so many obstacles in this semester, I am very grateful. I was able to re-learn the subjects, met many new friends, learned many things from them, and especially, laugh and enjoy togetherness with them ^^
I still have some points here but, since it's already 11pm here, I'll continue this later... (well, actually I'm not so sure I'll continue this lol)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Well, I'm also grateful to be with you this year..
Selasa, 05 Mei 2015
Jual Kitkat Greentea dan Oreo Matcha Termurah!!
Hello greentea lovers!!
Aku jual oleh-oleh khas jepang dengan harga murah meriah nih :D
☆Kitkat greentea isi 9 harga 52,000
☆Oreo Bits rasa greentea latte harga 30,000
☆ Kitkat special edition rasa Apple Pie and Carrot isi 12 harga 80,000(≧▽≦)
Oh iya, khusus kitkat rasa apple pie and carrot, jarang2 loh diproduksinya, soalnya edisi spesial ^^
Mau beli?
Sms/WA ke 087880755667
Atau line ke berlian.nainggolan
COD sekitar depok atau bisa dikirim lewat JNE ^^
Minggu, 01 Februari 2015
PK - Ngakak sambil Mikir
| from http://im.rediff.com/movies/2014/sep/17pk-poll3.jpg |
I’ve just watched PK and my first impression was “damn, it’s
so inspiring!”
PK sendiri sebenernya kepanjangan dari Peekay (bahasa India)
yang artinya mabuk.
Sinopsisnya, film ini menceritakan tentang alien yang datang
ke bumi untuk riset. Alien ini bentuknya mirip manusia (yaiyalah, yang jadi
aliennya aja Aamir Khan wkwkwk). Alien ini punya alat untuk meminta planetnya
menjemputnya pulang. Benda tersebut berbentuk kalung besar.
Eh sialnya, baru juga ketemu satu manusia di bumi, kalungnya
malah dicuri oleh manusia pertama yang ia lihat. Alien ini berusaha buat
mencari kalungnya agar bisa pulang ke rumah. Dalam usaha pencariannya, Alien
ini perlu mempelajari bahasa dan perilaku manusia. Ia bertanya pada polisi dan
orang-orang yang ia temui mengenai keberadaan kalungnya, namun jawaban semua
orang sama, “Mana aku tahu, tanya aja sama Tuhan, dasar Peekay (mabuk).”
| from http://data1.ibtimes.co.in/en/full/547512/makign-char-kadam-pk.jpg |
Ternyata eh ternyata, si alien ini beneran takes that words
literally. Dia sangka namanya beneran PK, dan dia cari Tuhan buat nanya
keberadaan kalungnya. DIa coba beli patung terus disembah, coba segala agama
yang ada, but hasilnya nihil. Nah sembari si PK ini mencari Tuhan untuk
menanyakan kalungnya, dia mempertanyakan prinsip2 dalam agama yang bener2 menggelitik
hati dan pikiran orang-orang, termasuk gue. Mau tau cerita lengkapnya? Ya
tonton sendiri lah ya. hahaha :P
Hal yang gue lihat dari sosok PK adalah sosok yang seriously
and literally and purely cari Tuhan. Bener2 kocak saat dia udah ngasih sesajen
mahal2 di kuil, eh ternyata ga dapet kalungnya, terus dia protes “Tuhan, kan
aku udah kasih bayarannya, kok ga dapet barangnya?”. Eh terus dia lapor polisi,
bilang kalo ada orang yang udah dibayar tapi ga ngelakuin kewajibannya, dan dia
kasih foto dewanya ke polisi. Langsung lah ditempeleng. Hahaha
Ketika PK sudah benar2 melakukan semua ritual agama yang dia
tahu, dia mulai mempertanyakan, mengapa Tuhan ga dengar panggilannya dan semua
ritual2 yang dijalani. Gue sangat terkesan waktu dia protes sama Mr. Tapaswi
saat Mr. Tapaswi lagi ceramah. Jadi ceritanya, si Mr Tapaswi ini tuh pemuka
agama gt yang punya banyak follower. Saat itu, seorang kakek bertanya pada Mr.
Tapaswi, bagaimana caranya agar istrinya bisa sembuh (istrinya udah ke dokter
terus dokter udah angkat tangan). Taunya, Mr Tapaswi minta kakek pergi ke
himalaya 4000 km nun jauh di sana buat beribadah pada Tuhan.
| PK pake helm kuning. Katanya, warna kuning bikin gampang narik perhatian. Jadi PK pake warna kuning buat narik pehatian Tuhan :P |
Langsung lah disemprot sama PK. Dia langsung tanya, “Kita
semua anak2 Tuhan bukan? Kalau anakmu sakit, kamu langsung sembuhin, atau suruh
anakmu pergi ke rumah lain yang jauhnya 4000km di sana?”. Ritual2 keagamaan
yang nonsense spt itu PK sebut dengan “Wrong number”, karena dia anggep bahwa
pemuka2 agama yang ‘sesat’ itu ga terhubung ke ‘nomer’ Tuhan yang benar.
Dan adegan yang paling gue suka, orang-orang jadi pada
mengevaluasi ritual2 yang suka mereka jalani. Contohnya, ada bapak2 yang protes
karena dia disuruh masuk Kristen biar ga masuk neraka. Lantas dia bilang. lah
kalo Tuhan mau saya jadi orang Kristen, saya pasti sudah dilahirkan di keluarga
Kristen. Dan banyak lagi pemikiran2 kritis orang2 mengenai ritual agamanya.
| Selama di dunia, PK pakai baju yang dia curi dari "Dancing Car'" kita sih biasanya nyebutnya "mobil goyang". wkwkwkw |
So I think, I’ve learned a lot through these films,
especially about the true faith. That faith is not only about religion and its rituals,
that we don’t need to protect God (well, since we are much much smaller than
Him), that who are we to judge people with different religions.
PK ended his arguments with Mr Tapaswi in a very impressive
quote “There are two gods in this world.
One is who creates us all, the other one is the one who create by people. We
know nothing about the God who creates us all. But the god created by people
like you (Mr. Tapaswi), is exactly like you. Liar, pretend to act, giving false
promises.”
So, back to myself, apakah gue udah menyembah ke Tuhan yang
benar? Atau jangan-jangan, gue masih terus menghubungi ‘wrong number’, the god
which created by myself? Apakah gue masih senewen terus sok2 ngebelain Tuhan
waktu Tuhan dihina? Atau gue masih ngejudge orang yang menganut agama lain?
“My right number is very simple. The God who creates us all, put faith
in Him. And the god people like you created, destroy it.” –PK
Kamis, 12 September 2013
Kelas Belajar Oky - Koja & Cilincing
Sabtu, 06 Juli 2013
Aku mau ceritain pengalaman mengajar aku kemarin. Kemarin,
aku bener2 diajak untuk melihat sisi lain kota Jakarta. Selama ini, aku
biasanya berkunjung ke tempat2 mewah di Jakarta, seperti Mal, perusahaan besar,
perumahan mewah, bahkan sekolah internasional. Aku tahu kalau ada sisi lain
kota Jakarta di balik sisi glamornya sebagai ibukota, tapi aku ga pernah secara
langsung pergi ke tempat tersebut dan berinteraksi dengan warganya.
Perjalanan kali ini menyusuri daerah Tanjung Priok. Hmm..
kalau diliat dari peta, jauh juga ya. Dari depok tuh ujung ke ujung banget. Aku
sama 3 temenku (Asti, Eki, Fatma) berangkat dari Depok jam 7 pagi naik trans
Jakarta. Dari awal udah ga dapet duduk, dan baru sampai di tempatnya jam stgh
12!! Dan, ga enaknya lagi, sebenernya janjian sama anaknya jam 10, jadi pas
dateng anak2nya udah pada mau pulang
Untung mereka mau masuk lagi untuk belajar..
Lama bgt di jalan, dan pas jalan kaki menuju lokasi (di
Koja), ternyata daerahnya agak banjir, sekitar di atas mata kaki dikit. Daerah
Koja cukup padat, dan biasanya masyarakatnya punya usaha mobil derek. Dari segi
suku dan agama, menurutku di daerah ini masyarakatnya lebih beragam dibanding
tempat mengajar yang lain. Tapi, sekalipun lebih beragam, mereka hidup rukun satu
sama lain. Aku titip pesan ke mereka agar meskipun berbeda, mereka harus tetap
hidup akur, tidak boleh memilih2 teman karena perbedaan tersebut.
Sejujurnya, kami sama sekali ga mempersiapkan apa2 untuk
pelajaran hari itu. Aku kebagian kelas 1-3 SD. Mereka minta pelajaran
matematika dan semanget banget buat belajar. Akhirnya aku minta mereka duduk
per kelas (kls 1, 2, 3) terus kasih mereka soal matematika bergantian. Setiap
selesai satu soal, aku minta mereka jawab bareng2. Mereka semanget banget buat jawab, terutama
kelas 1 nya. Kelas satu aku kasih soal tambah dan kurang tapi Cuma 1 sampai 10.
Kelas 2 nya justru terlihat self-esteemnya rendah. Aku kasih mereka soal tambah
dan kurang tapi angkanya sampai puluhan. Waktu dikasih soal yang agak sulit,
mereka langsung bilang ga bisa, padahal belum dicoba. Kalau kelas 3, mereka
tetap mau coba kerjakan sekalipun jawabannya salah. Contohnya, pas aku minta
mereka buat tabel perkalian 3 dan 4, mereka tetap mau coba sekalipun ada yang
salah dikit2. Tapi kan yang penting mereka ga mudah menyerah.
Ada satu anak yang pinter matematikanya. Aku lupa namanya
siapa, tapi aku baru tau kalau ternyata dia udh naik kelas 4, jadi harusnya
bukan aku yg pegang. Tapi dia mau belajar sama aku, jadi aku kasih perkalian
yang lebih sulit, perkalian 21x21 sampai 25x25 dan ternyata dia bisa jawab
semuanya dengan bener J
Terus, setelah itu, aku ceritain tentang Thomas Alfa Edison.
Aku ceritakan kalau Thomas Alfa Edison tuh bukan berasal dari keluarga kaya
yang berkecukupan, ia harus berjuang agar bisa sekolah dan bekerja untuk
menghidupi keluarganya. Aku pengen anak2 ini tahu bahwa anak seperti mereka
yang mungkin hidupnya kurang berkecukupan pun bisa meraih mimpi mereka. Aku
juga ingin mereka punya sosok panutan untuk meraih cita-cita mereka. Haha, jadi
inget pelajaran di Pelatihan, kan harus ada concrete experience yang membuat
terhenyak dan sosok panutan untuk berubah :P
Rabu, 04 September 2013
My Students and Their Metacognitive Levels
| www.jeffsapp.com |
Hari ini aku belajar mengenai
metakognisi, thinking about our own
thinking. Metakognisi sendiri berbicara mengenai kontrol terhadap proses
kognisi yang terdiri dari planning (perencanaan), monitoring (memonitor), dan
evaluating progress (mengevaluasi kemajuan dalam menyelesaikan goal/tujuan). Hari
ini, topik dari kuliah metakognisi adalah Self-Regulated Learning. Metakognisi
dibagi menjadi dua komponen, pengetahuan mengenai kognisi dan self-regulatory
mechanism (mekanisme mengatur diri sendiri). Self-regulatory mechanism
contohnya adalah mengecek hasil kerja, membuat perencanaan, monitoring, dll
(Baker & Brown). Zimmerman memfokuskan self-regulation pada konteks
akademis, sehingga terciptalah istilah Self-Regulated Learning (Regulasi diri
dalam belajar). Belajar Self-Regulated
Learning bikin aku inget sama dua murid privatku yang duduk di bangku SMP.
Oh iya, aku jadi guru privat
pelajaran Bahasa Indonesia, dan sekarang punya dua murid yang lagi persiapan
UAN SMP. Murid yang pertama, sebut aja F, siswa sebuah SMP negeri di Jakarta.
Siswa kedua, R, adalah siswa SMP swasta di Jakarta. Dua-duanya perempuan,
umurnya sama, dan berasal dari SES (Socioeconomic status) menengah ke atas. Oh
iya, aku ngajar di rumah mereka masing-masing, jadi mereka juga ga saling kenal
satu sama lain.
Setelah
beberapa kali mengajar mereka, aku melihat strategi belajar yang sangat berbeda
dari kedua muridku ini. R cenderung pasif. Saat mengajar R, biasanya R akan
menunda-nunda waktu untuk belajar dan baru 10 menit kemudian siap untuk
belajar. Selain itu, R baru mulai mengerjakan soal saat aku minta mengerjakan
soal. Saat membahas soal, aku biasanya bertanya “Kenapa kamu jawab itu?” untuk
memancing R agar R dapat mengontrol belajarnya. R biasanya akan menjawab “Tidak
tahu” atau “Bingung”, atau hanya diam seolah mencoba keras memberikan jawaban
yang aku inginkan. Padahal, dengan bertanya seperti itu, aku berharap R bisa
mengetahui apa materi yang belum ia kuasai, seberapa jauh ia menguasai suatu
materi, dan agar dapat memberikan strategi belajar yang tepat untuk R. Selain
itu, R seringkali salah memahami soal, sering tidak mengerti soal, namun ia
tidak akan mengatakan kalau ia tidak mengerti kecuali aku bertanya langsung
sama R. Waktu belajar satu sesi (1,5 jam) sudah membuat R kelelahan, dan
biasanya 10 menit terakhir R sudah kehilangan konsentrasi.
Sementara itu, F sangat aktif
dalam belajar. Saat aku akan mengajar F, pasti F udah mengerjakan soal-soal dan
meminta aku untuk membahas soal-soal yang menurutnya sulit atau membingungkan. Setelah
membahas pertanyaan yang membingungkan tersebut, jika F masih belum betul-betul
paham, ia tidak sungkan untuk bertanya hingga benar-benar paham. Saat aku
bertanya kenapa ia menjawab seperti itu, ia dapat menjelaskan dengan baik. F
juga tidak ragu-ragu untuk meminta penjelasan jika jawaban yang ia yakin benar
berbeda dengan jawaban yang aku berikan. Waktu privat satu sesi tidak cukup untuk F,
jadi kami biasanya belajar dua sesi (3 jam) tanpa istirahat dan F tetap fokus
selama tiga jam tersebut.
Aku lupa sumbernya dari mana,
tapi ada empat tingkat metakognisi yang dilakukan oleh learner. Tingkatan
tersebut:
Level 0 : Tacit Learner.
Pada tingkatan ini, pelajar tidak sadar/aware terhadap kemampuan
metakognisi mereka. Mereka tidak sadar/tahu materi apa yang mereka telah
ketahui/kuasai dan apa yang belum mereka ketahui/kuasai. Mereka juga tidak
menyadari sejauh mana proses belajar mereka untuk mencapai penguasaan materi. Mereka
tidak memiliki strategi belajar. Bahkan, mereka tidak sadar bahwa mereka
bermasalah dalam menguasai materi. Contohnya adalah: saat mau ujian
trigonometri, seorang guru bertanya pada salah satu murid
Guru: “Kamu bisa tidak
materinya?”
Murid:“Gatau”.
Guru: “Yang mana yang tidak
mengerti?”
Murid: “Gatau”
Nah, murid yang bahkan ga sadar
kalau ada yang salah dengan kognisinya ini yang masuk pada level 0. Kalau
mereka aja gatau mana yang mereka udah kuasai ato belom, gimana mau tau progres
belajarnya, gimana mau nyusun strateginya, dan gimana mau menguasai materi.
Karena itu, pelajar pada tahap ini dikatakan sebagai Unconsciously Incompetent (Tidak
kompeten secara tidak sadar).
Level 1. Aware Learners.
Nah, kalo pelajar pada tahap ini,
dia nyadar kalo ada yang salah dengan pemahamannya terhadap suatu materi.
Contohnya, dia tahu kalau di matematika dia ga bisa trigonometri, tapi ga jelas
ga bisanya di trigonometri yang kaya gimana (kan banyak tuh ada sin cos tan,
perkalian sin cos, pembagian, dll). Tapi, pada level ini, pelajar Cuma tau
kalau ada masalah di pemahamannya tanpa melakukan strategi untuk memperbaiki
pemahamannya. Jadi, udah tau ga bisa integral, yaudah diem aja kaya ga ada
masalah apa-apa. Tapi seengganya dia udah sadar lah kekurangannya di mana. Jadi,
pelajar pada tingkat ini dikatakan sebagai consciously
incompetent.
Level 2. Strategic Learner
DI level ini, pelajar udah bisa
mengorganisasi pikiran mereka. Jadi, mereka tau dengan jelas mereka ga
ngertinya di mana, contohnya, si pelajar tadi tuh ngerti dia ternyata ga
bisanya pas di perkalian dan pembagian sin cos tan. Nah, ga berhenti sampai tau
masalahnya apa, dia juga udah mulai coba-coba pakai strategi yang dia bisa buat
memperbaiki pemahamannya, contohnya dengan bertanya pada guru, cari di
internet, baca buku, dan sebagainya. Pelajar dalam tahap ini disebut juga consciously competent.
Level 3. Reflective Thinkers
Nah ini level yang paling tinggi.
Dalam level ini, mereka sudah dapat meregulasikan (atau bahasa gampangnya,
mengatur) cara belajar mereka. Dari hasil coba-coba strategi pada level 3,
mereka dapat menggunakan strategi yang paling tepat di waktu dan kondisi yang
tepat. Mereka tahu harus berbuat apa, atau gimana harus belajar dengan baik,
dan melakukannya dengan rutin.
Berdasarkan level metakognisi di
atas, kira-kira dua murid aku itu masuk yang mana yaa??
Jumat, 08 Februari 2013
Memberi Bukan Menerima
Setiap umat beragama biasanya memiliki hari raya yang paling mereka nantikan. Sebagian umat Muslim menantikan datangnya hari Lebaran, sedangkan umat Kristen menantikan hari Natal, begitu pula dengan agama lain dengan hari rayanya masing-masing. Seorang teman saya di asrama yang menganut agama Islam sangat menantikan datangnya hari Lebaran. Ia sudah merencanakan apa yang akan ia nikmati di hari Lebaran, bahkan dua bulan sebelum Lebaran! Demikian pula seorang teman saya yang Kristen. Ia sangat menantikan datangnya Natal sehingga ia sudah mempersiapkan rencana untuk Natal bahkan sebelum Desember tiba. Tahukah alasan mengapa banyak orang begitu bersemangat mempersiapkan hari raya yang mereka nantikan?
“...karena pada hari itu aku akan mendapat hadiah bla, bla, bla...”
“...karena pada hari itu aku akan berkumpul dengan keluargaku dan menikmati makanan yang sangat enak...”
“...karena pada hari itu aku akan mendapat berkat yang melimpah..”
Ya, hal itu yang sering saya dengar dari mulut setiap orang yang beragama. Hal yang dapat saya simpulkan adalah, banyak dari kita yang sangat menantikan suatu hari raya tertentu karena pada hari itu kita berharap akan menerima sesuatu, baik materi, berkat, ketenangan, maupun pemuasan keinginan lainnya.
Awalnya saya juga berpikir demikian. Saya adalah seorang Kristen dan saya sangat menantikan Natal. Seperti umat Kristen pada umumnya, saya berharap di hari Natal saya bisa mendapatkan berkat Tuhan yang lebih istimewa, hadiah yang indah, ucapan salam dari teman dan saudara, serta kehangatan saat berkumpul bersama keluarga. Namun, hal tersebut berubah ketika saya merayakan Natal dengan anak-anak dari sekolah untuk masyarakat tidak mampu.
Hari ini saya menghabiskan waktu dengan merayakan Natal bersama teman-teman dari KDM Cibubur, sebuah sekolah untuk masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Kami merayakan Natal dengan mengajak teman-teman di sana bermain bersama tanpa membawa nama agama, karena tidak semua anak di sana adalah umat Kristen. Kami hanya bermain permainan sederhana berupa uji konsentrasi dan menahan tawa. Namun, saat kami mengajak mereka bermain dan mengobrol, saya melihat suatu ketertarikan dan kegembiraan yang terpancar dalam diri mereka, seakan-akan semua itu jarang sekali mereka dapatkan. Saat kami membagikan kue-kue kecil kepada mereka, terlihat mereka makan dengan lahapnya sambil bertanya nama kue yang mereka makan (saat itu kami membagikan risoles isi sosis mayones dan kue pai). Keceriaan pada wajah mereka semakin terlihat saat kami membagikan sebuah kado kecil kepada masing-masing anak. Kado yang kami berikan hanya kotak pensil dan beberapa alat tulis, namun mereka menganggap kado itu sangat istimewa.
Perayaan Natal di KDM sukses mengubah pola pikir saya tentang hari raya. Saya yang awalnya memikirkan tentang apa yang akan saya dapatkan ketika Natal berubah menjadi apa yang dapat saya berikan ketika Natal. Saat bermain dengan anak-anak di KDM, saya merasa ingin memberikan apa yang dapat saya berikan, baik itu jatah kue saya, perhatian, senyum, atau tawa. Ya, ada suatu gejolak dalam hati saya yang mendorong saya untuk memberikan apa yang saya miliki untuk membuat mereka tersenyum, sekalipun hal itu merugikan diri saya sendiri. Ternyata, sekalipun ‘memberi’ terkesan merugikan diri sendiri, rasa damai yang didapat jauh lebih besar dibanding kerugian material maupun fisik yang kita rasakan.
Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah, baik Natal maupun hari raya lainnya, seharusnya dimaknai dengan ‘memberi’, bukan ‘menerima’. Jangan sampai orientasi kita saat merayakan hari raya kita adalah ‘apa yang akan kita terima’, melainkan ubahlah menjadi ‘apa yang dapat kita beri’. Pemberian kita tidak perlu selalu berbentuk materi, kita dapat memberikan rasa syukur dan penghormatan kita pada Tuhan, perhatian pada orang-orang di sekitar kita, bantuan tenaga, senyum, salam, dan sebagainya. Percayalah, saat kita tidak mementingkan diri kita sendiri, Tuhanlah yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita, bahkan membuatnya berlimpah. Selamat memberi!
Esai mata kuliah Logika dan Penulisan Ilmiah
Desember 2010
Story of My Student - N -
Just call her N. She is one of my private student. She is on grade 8 now, in an international school in Jakarta. Yesterday should be the last day i teach her. But, unfortunately (or fortunately) i still have to teach her this semester.
I actually don't know how to teach her. Well, she is kind (i don't know how to explain her kindness), a bataknese too (same as me), rich (of course), and don't want to learn math. She always scream to her maid when she wants something, throws everything (including her Mac, iPhone, expensive books, and calculator), and wants a break every 15 minutes.
This is what i usually do when we have private teaching session: When i come to her house, she's still take a shower (or maybe she start take a shower when i come), and it waste 15 minutes. Her maid will give me a glass of mango juice when i'm waiting her. Then, i come to her bedroom. She will ask me if she can have 10 minutes to prepare herself. Then, she will start doing her homework, i will sit beside her and look at her homework, nodding if she does it well, talk to her if she gets wrong answer. Then, after 1 hour, she will say "It's done. Bye." or maybe just try to ask me to go home.
Sometimes, i wonder if she hates me. I can't even tell her to study 1,5 hour. I sometimes don't understand the materials quickly and need time to understand it. I'm not from mathematics faculty, as her parents wish. So, i decided to tell my boss that i can't teach her anymore, i want her to have a better teacher who knows math very well and can fulfill her parents' expectation.
Yesterday, she told me that she gets B- on her test. For me and her, it is a good result, because she usually get C and she thinks this time she will get C again. She said to me that her friends who got B- too were very disappointed, but i said to her 'just don't listen to them'.
Then, in the end of lesson, i told her that next week she will be taught by another teacher from mathematics faculty. And you wanna know her reaction? She was so disappointed. When i said that it's her mother's choice to have a teacher from mathematics faculty, she said "but you're as good as them" and "I'll talk to my mom about it".
So, i actually glad to hear that she likes me. Deep inside my heart, i worry if another teacher will treat her bad as the teachers before me. I worry if the new teacher can't listen to her, don't know what she needs. So that's why, i decided to keep teaching her. I hope the theories that i learned in psychology can help me to do my job.
But i'm worried about my psychological happiness for this semester..
Wonder : Don't Judge A Boy by His Face
One of the book that i read this holiday is "Wonder", written by R. J. Palacio in 2012.
Before i tell you about this book, i want you to search "Mandibulofacial Dysostosis" on google. Try to look at the pictures of people who have this abnormality. Yes, this book is about one of them, a child named August Pullman who has "Mandibulofacial Disostosis" and his life.
In Indonesia, this book is published by Atria Publisher.
![]() |
| http://floriayasmin.blogspot.com/2013/01/wonder.html |
He knows he's different. He knows that his face is so ugly so everyone will stare at him twice when they meet him for the first time. He knows that everyone see him and feels sorry to him, or, even worse, mock him. But, he's just keep quiet, pretend that he doesn't hear that, pretend that nothing is different. Only in his house he feels secure. He really loves halloween, because, in halloween, he can just go everywhere without being stared by people.
But, now, after he feels secure with his house, his family, and his homeschooling, he must face the real world, public school, on grade 5. He must deal with all entire school stare at him everyday, pretend that he can bring disease if somebody touch his body, and being mocked & ignored by his friends.
This book tells us about his struggle with his new school life by his point of view, how he face the real world. Before he go to public school, his family and friends (which you can count with your fingers) always treat him special, tell him that he is special and love him. But, he must face the real world, the society that still think he's ugly, he's different, and can't accept him easily.
But, not only that, in this book, we can also know the caregivers' point of view, his sister and his bestfriends, and even, the caregivers' significant others (his sister's boyfriend, his sister's friend) which i think is the plus point of this book. We can know that August's life also affect their life, especially their social life.
From this book, i learn aboout their struggle (August and another kids who have this disease) to face the society. They can't do it alone, there must be supports for them, from family, friends, school teacher, and others. They know that society won't accept them easily. Some of them just give up with their life, don't want to face the society. Some of their caregivers just don't want them to be hurt by the society, keep them in the safe place, and make them rely on their caregivers for the rest of their life. But, the best thing to do is, let them know the society when they ready, so they know that, "..many bad people out there, but the good people are more. (August's mother, 2012)."
R. J. Palacio wrote this book for the children, as cited from his website,
" I hope that kids will come away with the idea that they are noticed: their actions are noted. Maybe not immediately or directly or even in a way that seems obvious, but if they’re mean, someone suffers. If they’re kind, someone benefits. And the choice is theirs: whether to be noticed for being kind or for being mean. They get to choose who they want to be in this world. And it’s not their friends and not their parents who make those choices: it’s them."
Just a little talk about your friend behind his/her back can bring your friend to become your enemy
Just a little smile and hello to make a lonely person feels accepted
Just a little stare at someone to make him down
Just a little kindness in every act to make the world a better place
Last, this is one of August's quotes which i love the most:
Everyone in the world should get a standing ovation at least once in their life because we all overcometh the world. - Auggie” (Palacio, 2012)
You can visit her website : rjpalacio.com for the story behind the book, other faqs, and guide for teachers :)
Selasa, 05 Februari 2013
The Difference Between Just Friends and Bestfriends
Selama ini sebenernya gue selalu bertanya, apa sih bedanya temen biasa sama sahabat?
Gue awalnya kira, sahabat itu adalah temen yang deket banget sama kita, kemana2 bareng, tau rahasia2 yang umumnya ga diketahuin temen2 lain, dan yang terutama, it will last forever.
But, wait a sec..
Pengalaman gue di SMP nampaknya ga demikian, terutama buat yang terakhir. Gue pernah punya sahabat yang beneran sehati banget waktu SMP. Ntah berapa lah sahabat gue waktu itu. Saking sehatinya, waktu dulu pernah, pas gue nyanyiin satu lagu di dalam hati, eh 'sahabat' gue ngelanjutin lagu itu (nyanyi beneran) pas di timing gue berhenti nyanyiin di dalem hati. Gila ga tuh hebat banget (padahal cuma coincidence mungkin :P)
Tapi sayangnya, setelah masuk SMA, apalagi pas udah masuk kuliah, sikap mereka jadi beda ke gue. Ato mungkin gue juga jadi ikutan berbeda ya? Mereka jadi kaya orang yang gue ga kenal, atau cuma sekedar jadi temen di facebook. Buat nyapa aja awkward banget, padahal nyapa di facebook loh.
Dan hal itu biasanya terjadi pada 'sahabat' cewe. Gue lebih ga awkward sama sahabat (ato mantan sahabat?) cowo dibanding cewe. Ntah kenapa sih, mungkin perasaan gue aja, tp gue sendiri bingung apakah cuma gue yang nganggep mereka sahabat sementara mereka nganggep gue temen biasa?
Yang jelas, selesai SMP, gue ga mau lagi ke-Geer-an bilang orang lain sahabat gue.
Di SMA, gue mengenal istilah lain yang menggantikan sahabat, yaitu keluarga. ANTS (persekutuan kristen di sekolah), adalah keluarga gue. Term "keluarga" jauh lebih bisa gue mengerti dibanding sahabat. Temen2 SMA gue yang sampai sekarang masih catch up sama gue, mereka juga keluarga SMA gue. Temen2 dari kecil, mereka keluarga gue.
Pas kuliah, term "sahabat" ini kembali muncul. Terutama di persekutuan PO dan grup KAUP gue. Entah gue ke-Geer-an, atau salah denger, but they called me with that term. Sejujurnya, gue masih belom mengerti apa yang mereka maksud dengan "sahabat". Apa itu artinya : kita cuma deket pas kuliah, udah selesei kuliah ya liat aja nanti, ato apa? Apa ada syarat yang harus dipenuhi buat jadi "sahabat"? Apa gue, secara ga sadar, udah memenuhi syarat untuk menjadi "sahabat" mereka?
I prefer called them family, keluarga KAUP, keluarga Psiko, karena menurut gue, yang namanya keluarga tetaplah keluarga, mau cerai, mau pisah2, mau lupa, ya tetep aja keluarga. It will last forever. And i hope our relationship will last forever too, sampai kerja, punya keluarga sendiri, bahkan sampai kakek-nenek kalau perlu. Gue ga mau lagi punya "sahabat" yang hanya dekat pas satu sekolah/kampus aja :)
So, till i know the true definition of "best friends", i prefer call them "family" ..
Gue awalnya kira, sahabat itu adalah temen yang deket banget sama kita, kemana2 bareng, tau rahasia2 yang umumnya ga diketahuin temen2 lain, dan yang terutama, it will last forever.
But, wait a sec..
Pengalaman gue di SMP nampaknya ga demikian, terutama buat yang terakhir. Gue pernah punya sahabat yang beneran sehati banget waktu SMP. Ntah berapa lah sahabat gue waktu itu. Saking sehatinya, waktu dulu pernah, pas gue nyanyiin satu lagu di dalam hati, eh 'sahabat' gue ngelanjutin lagu itu (nyanyi beneran) pas di timing gue berhenti nyanyiin di dalem hati. Gila ga tuh hebat banget (padahal cuma coincidence mungkin :P)
Tapi sayangnya, setelah masuk SMA, apalagi pas udah masuk kuliah, sikap mereka jadi beda ke gue. Ato mungkin gue juga jadi ikutan berbeda ya? Mereka jadi kaya orang yang gue ga kenal, atau cuma sekedar jadi temen di facebook. Buat nyapa aja awkward banget, padahal nyapa di facebook loh.
Dan hal itu biasanya terjadi pada 'sahabat' cewe. Gue lebih ga awkward sama sahabat (ato mantan sahabat?) cowo dibanding cewe. Ntah kenapa sih, mungkin perasaan gue aja, tp gue sendiri bingung apakah cuma gue yang nganggep mereka sahabat sementara mereka nganggep gue temen biasa?
Yang jelas, selesai SMP, gue ga mau lagi ke-Geer-an bilang orang lain sahabat gue.
Di SMA, gue mengenal istilah lain yang menggantikan sahabat, yaitu keluarga. ANTS (persekutuan kristen di sekolah), adalah keluarga gue. Term "keluarga" jauh lebih bisa gue mengerti dibanding sahabat. Temen2 SMA gue yang sampai sekarang masih catch up sama gue, mereka juga keluarga SMA gue. Temen2 dari kecil, mereka keluarga gue.
Pas kuliah, term "sahabat" ini kembali muncul. Terutama di persekutuan PO dan grup KAUP gue. Entah gue ke-Geer-an, atau salah denger, but they called me with that term. Sejujurnya, gue masih belom mengerti apa yang mereka maksud dengan "sahabat". Apa itu artinya : kita cuma deket pas kuliah, udah selesei kuliah ya liat aja nanti, ato apa? Apa ada syarat yang harus dipenuhi buat jadi "sahabat"? Apa gue, secara ga sadar, udah memenuhi syarat untuk menjadi "sahabat" mereka?
I prefer called them family, keluarga KAUP, keluarga Psiko, karena menurut gue, yang namanya keluarga tetaplah keluarga, mau cerai, mau pisah2, mau lupa, ya tetep aja keluarga. It will last forever. And i hope our relationship will last forever too, sampai kerja, punya keluarga sendiri, bahkan sampai kakek-nenek kalau perlu. Gue ga mau lagi punya "sahabat" yang hanya dekat pas satu sekolah/kampus aja :)
So, till i know the true definition of "best friends", i prefer call them "family" ..
Holidays will End SOON
Sebenernya liburan kali ini menurutku udah aku habiskan dengan cukup baik sih.
Ke rumah, udah.
Jalan-jalan, udah.
Cari duit, udah.
Cari pengalaman, udah.
Nulis di blog, udah.
Main PS di komputer, udah.
Beresin kosan, udah, meskipun berantakan lagi. hahaha
Tapi, yah, masih merasa tetep kurang aja liburannya (biasa lah ya mau dikasih liburan sepanjang apapun pasti bilangnya kurang). hahaha
Besok udah mesti balik ke depok soalnya masih ngajar. hiks.
Padahal masih pengen di rumah.
Tapi yah, ntar ada saatnya lagi untuk liburan di rumah ^^
But, the biggest problem is, IRS gue belom fix!
Aaaaah, gue cuma butuh satu matkul pilihan, satu aja yang bener.
Tapi kenapa susah banget dapetnyaaaa....
Yah sekian carita hari ini, semoga IRS bisa hari ini kelar, jadi bisa kembali ke depok dengan tenang.
Bye Holiday,
Hello KAUP!
Ke rumah, udah.
Jalan-jalan, udah.
Cari duit, udah.
Cari pengalaman, udah.
Nulis di blog, udah.
Main PS di komputer, udah.
Beresin kosan, udah, meskipun berantakan lagi. hahaha
Tapi, yah, masih merasa tetep kurang aja liburannya (biasa lah ya mau dikasih liburan sepanjang apapun pasti bilangnya kurang). hahaha
Besok udah mesti balik ke depok soalnya masih ngajar. hiks.
Padahal masih pengen di rumah.
Tapi yah, ntar ada saatnya lagi untuk liburan di rumah ^^
But, the biggest problem is, IRS gue belom fix!
Aaaaah, gue cuma butuh satu matkul pilihan, satu aja yang bener.
Tapi kenapa susah banget dapetnyaaaa....
Yah sekian carita hari ini, semoga IRS bisa hari ini kelar, jadi bisa kembali ke depok dengan tenang.
Bye Holiday,
Hello KAUP!
![]() |
| Bye Jogja! Bye Holiday! |
Senin, 04 Februari 2013
So Hard and So Easy Becoming Private Teacher -part 2-
Nah, di part 1 kan udah cerita tentang murid pertama, sekarang murid keduaa. jeng jeng jeng
Murid kedua gue anak ekspatriat, mamanya Filipina, papanya New Zealand. Sebut aja nama anaknya Skye, tp biar gampang S aja ya. Umurnya 6 tahun dan mau masuk kelas 2, perempuan. S ini asalnya dari Auckland (kyaaa pengen bgt kesanaa!) tapi mamanya lagi ada kerjaan di Indonesia jadi mereka nyewa apartemen di Jakarta gitu.
Anaknya baiiik banget, cukup cerewet, dan cukup susah diatur juga. Tapi lucunya, kl lagi bercanda2 sampai ketawa ngakak, dia tiba2 suka peluk gue terus bilang "I love you". Lucu bangeeet!
Nah gue ngajar reading, writing, sama math gitu buat dia. Agak heran sih, soalnya kalau di Indonesia biasanya udah bisa baca tulis dari umur 5 gitu kan. Nah S ini, bahkan huruf b sama d masih suka kebalik. Hitung2an tambah sama kurang juga masih belum lancar. Dan, seperti kebanyakan anak-anak lainnya, S susah konsentrasi. Jadi akhirnya aku biasanya ngasih reward setiap dia bisa ngerjain tugas yang aku kasih, atau kasih tugas yang bikin dia banyak gerak. Contohnya, pas writing, aku minta dia bolak balik ke kamar mandi untuk liat benda apa yang bisa dia tulis di kertasnya. Terus, pas dia bisa nulis dengan rapi, aku minta dia tempelin stiker di kertasnya dan kasih liat mamanya. Jadi dia seneng gitu dipuji mamanya :D
Pernah ada kejadian, waktu itu pas gue ngajar tiba2 ada nenek2 di apartemen itu. Gue pikir itu mungkin grandma nya Skye. Terus gue nanya ke Skye
Gue : Skye, the woman there, is she your grandma?
Skye : No, she is my nana.
Gue : What is nana?
Skye : Nana is tita.
Gue: ??? What is Tita?
Skye: (ketawa) Tita is Nana
Gue : (nyerah) (diketawain)
dan sampai sekarang misteri Nana-Tita tersebut belum terpecahkan.
Oh iya, setelah ngajar anak lokal dan ekspatriat, aku ngerasa justru lebih dihargai oleh ekspatriat. Contoh sederhana, waktu ngajar N (anak lokal, SMP), aku duduk di kursi citos sementara dia duduk di sofa plus bantalan kaki (but i'm okay with that, cuma membandingkan kok). Sementara, waktu ngajar Skye (ekspatriat), waktu cuma ada 1 kursi komputer yang super nyaman n bisa diputer2 dan 1 bangku bakso, mamanya nyuruh aku duduk di kursi komputer itu, katanya " You're the teacher and she (Skye) is the student, so you're the one who should sit here." Keliatan banget ngehargain teacher nya.
Terus neneknya juga ngajarin skye buat menghargai aku sbg teacher and should call me Mam because i'm her mother at private class. Terharu deh jadinya :). Mamanya juga kasih makan siang pas harus ngasih extra time buat Skye. Sementara, di rumah N, gue harus nurutin apa yang diminta N, datang disambut dengan kesunyian di rumah, dan yah, justru gue lebih sering ngobrol ke pembantunya daripada ke ortunya ato N nya.
Tapi kedua pengalaman ngajar itu bener2 bikin aku makin kenal anak-anak dan dunia mereka, bikin aku tahu kenapa mereka bisa jadi diri mereka yang sekarang, dan tentu saja, belajar buat lebih bersabar :)
Murid kedua gue anak ekspatriat, mamanya Filipina, papanya New Zealand. Sebut aja nama anaknya Skye, tp biar gampang S aja ya. Umurnya 6 tahun dan mau masuk kelas 2, perempuan. S ini asalnya dari Auckland (kyaaa pengen bgt kesanaa!) tapi mamanya lagi ada kerjaan di Indonesia jadi mereka nyewa apartemen di Jakarta gitu.
Anaknya baiiik banget, cukup cerewet, dan cukup susah diatur juga. Tapi lucunya, kl lagi bercanda2 sampai ketawa ngakak, dia tiba2 suka peluk gue terus bilang "I love you". Lucu bangeeet!
Nah gue ngajar reading, writing, sama math gitu buat dia. Agak heran sih, soalnya kalau di Indonesia biasanya udah bisa baca tulis dari umur 5 gitu kan. Nah S ini, bahkan huruf b sama d masih suka kebalik. Hitung2an tambah sama kurang juga masih belum lancar. Dan, seperti kebanyakan anak-anak lainnya, S susah konsentrasi. Jadi akhirnya aku biasanya ngasih reward setiap dia bisa ngerjain tugas yang aku kasih, atau kasih tugas yang bikin dia banyak gerak. Contohnya, pas writing, aku minta dia bolak balik ke kamar mandi untuk liat benda apa yang bisa dia tulis di kertasnya. Terus, pas dia bisa nulis dengan rapi, aku minta dia tempelin stiker di kertasnya dan kasih liat mamanya. Jadi dia seneng gitu dipuji mamanya :D
Pernah ada kejadian, waktu itu pas gue ngajar tiba2 ada nenek2 di apartemen itu. Gue pikir itu mungkin grandma nya Skye. Terus gue nanya ke Skye
Gue : Skye, the woman there, is she your grandma?
Skye : No, she is my nana.
Gue : What is nana?
Skye : Nana is tita.
Gue: ??? What is Tita?
Skye: (ketawa) Tita is Nana
Gue : (nyerah) (diketawain)
dan sampai sekarang misteri Nana-Tita tersebut belum terpecahkan.
Oh iya, setelah ngajar anak lokal dan ekspatriat, aku ngerasa justru lebih dihargai oleh ekspatriat. Contoh sederhana, waktu ngajar N (anak lokal, SMP), aku duduk di kursi citos sementara dia duduk di sofa plus bantalan kaki (but i'm okay with that, cuma membandingkan kok). Sementara, waktu ngajar Skye (ekspatriat), waktu cuma ada 1 kursi komputer yang super nyaman n bisa diputer2 dan 1 bangku bakso, mamanya nyuruh aku duduk di kursi komputer itu, katanya " You're the teacher and she (Skye) is the student, so you're the one who should sit here." Keliatan banget ngehargain teacher nya.
Terus neneknya juga ngajarin skye buat menghargai aku sbg teacher and should call me Mam because i'm her mother at private class. Terharu deh jadinya :). Mamanya juga kasih makan siang pas harus ngasih extra time buat Skye. Sementara, di rumah N, gue harus nurutin apa yang diminta N, datang disambut dengan kesunyian di rumah, dan yah, justru gue lebih sering ngobrol ke pembantunya daripada ke ortunya ato N nya.
Tapi kedua pengalaman ngajar itu bener2 bikin aku makin kenal anak-anak dan dunia mereka, bikin aku tahu kenapa mereka bisa jadi diri mereka yang sekarang, dan tentu saja, belajar buat lebih bersabar :)
So Hard and So Easy Becoming Private Teacher -part 1-
Liburan semester 5 ini, setelah bersenang2 di Jogja, aku mulai kembali cari uang dengan jadi guru privat. Yeay!
Jujur aja sebenernya gampang banget untuk melamar jadi guru privat, banyak lembaga privat yang daftarnya tinggal pakai SMS atau email. Apalagi udah ada embel2 mahasiswa UI, lebih gampang lagi untuk diterima, bahkan ga jarang malah ditawarin.
Dari sekian banyak lembaga les privat yang aku daftar, ada satu lembaga yang cukup menggiurkan, sebut aja E. Di lembaga ini, guru privatnya dibayar minimal Rp 100.000 per pertemuan (include ongkos). Kalau di lembaga lain, biasanya Rp 80.000 per pertemuan dan udah sama ongkos. Tapi di lembaga yang menggiurkan ini, tutor nya harus ngajar dalam bhs Inggris, karena rata2 muridnya ekspatriat atau orang Indonesia yang sekolahnya di international school.
Nah, di lembaga privat ini, aku dikasih 2 murid untuk liburan kali ini. Murid yang pertama, sebut aja N. Dia kelas 2 SMP di suatu international school di Jakarta. Surprise Surprise, dia orang batak juga ternyata. Awal ketemu sama ortunya, ortunya cerita kalau N lemah banget di matematika. Terus ternyata orangtuanya pengen pengajar dari Matematika. Berikut diaolgnya:
Mamanya N (MN): Kuliah di UI ya? jurusan apa?
Nia (X): Psikologi, Tante.
MN: Oooh psikologi (nada ga enak, lirik gue bawah sampe atas), saya tadinya pikir dari matematika. Padahal kan saya mintanya dari matematika.
Nia (X): Oh gitu ya tante, maaf saya ga dikasih tau harus dari matematika soalnya tante.. (muka polos)
dan sejak saat itu aku mulai agak males ngajar anaknya. Ditambah lagi, pas pertama ngajar, anaknya keliatan ogah2an gitu. Akhirnya sebelum mulai pelajaran, aku tanya dulu ke dia..
Nia: How do you feel?
N: (burst into tears)
Terus dia cerita kalo orangtuanya tuh nganggep dia bodoh banget di mat, padahal nilainya lumayan loh (70 sampe 80 gitu). Dia bilang kalo dia ga mau les, tapi ortunya bilang "We already paid her (gue)". Nah kan mampus gue jadi kambing hitam.
Akhirnya sih tetep les, tapi dari jatah 1,5 jam, biasanya dia les cuma 1 jam dan langsung mengusir gue secara halus. Contohnya, selesei bikin PR, dia bakal bilang
"It's done for today, bye!"
dan gue hanya bengong, lalu pergi.
Eh tunggu dulu, dia bukan ga suka sama gue, dia ga suka les matematikanya. hehe
Kalo lagi waktu istirahat, dia suka nunjukkin games nintendo nya ke gue dan excited bgt gitu jelasinnya.
Tapi, aku sendiri ngerasa ga sanggup untuk menuhin tuntutan orangtuanya. Orangtuanya minta gue ngajarin 3 materi dalam 1,5 jam (materi sebelumnya, materi yg sekarang dipelajari, materi yg akan datang) plus bantuin ngerjain PR. Agak 'gila' sih menurut gue, ditambah anaknya ga mau les. Terus, orangtuanya minta sekalian ngajarin persiapan tes-sesuatu-untuk-masuk-sekolah-di-Amerika yang membuat gue makin gila hahaha. Akhirnya, gue bilang ke atasan gue kalo aku cuma bisa ngajar sampai minggu ini. Kalo jahat sih, bisa aja gue terusin lesnya, toh untung di gue, dapet duit buat 1,5 jam tapi ngajarnya cuma 1 jam. Tapi yah itu bukan prinsip gue. hehe
Bersambung ke part 2 lalalala..
Jujur aja sebenernya gampang banget untuk melamar jadi guru privat, banyak lembaga privat yang daftarnya tinggal pakai SMS atau email. Apalagi udah ada embel2 mahasiswa UI, lebih gampang lagi untuk diterima, bahkan ga jarang malah ditawarin.
Dari sekian banyak lembaga les privat yang aku daftar, ada satu lembaga yang cukup menggiurkan, sebut aja E. Di lembaga ini, guru privatnya dibayar minimal Rp 100.000 per pertemuan (include ongkos). Kalau di lembaga lain, biasanya Rp 80.000 per pertemuan dan udah sama ongkos. Tapi di lembaga yang menggiurkan ini, tutor nya harus ngajar dalam bhs Inggris, karena rata2 muridnya ekspatriat atau orang Indonesia yang sekolahnya di international school.
Nah, di lembaga privat ini, aku dikasih 2 murid untuk liburan kali ini. Murid yang pertama, sebut aja N. Dia kelas 2 SMP di suatu international school di Jakarta. Surprise Surprise, dia orang batak juga ternyata. Awal ketemu sama ortunya, ortunya cerita kalau N lemah banget di matematika. Terus ternyata orangtuanya pengen pengajar dari Matematika. Berikut diaolgnya:
Mamanya N (MN): Kuliah di UI ya? jurusan apa?
Nia (X): Psikologi, Tante.
MN: Oooh psikologi (nada ga enak, lirik gue bawah sampe atas), saya tadinya pikir dari matematika. Padahal kan saya mintanya dari matematika.
Nia (X): Oh gitu ya tante, maaf saya ga dikasih tau harus dari matematika soalnya tante.. (muka polos)
dan sejak saat itu aku mulai agak males ngajar anaknya. Ditambah lagi, pas pertama ngajar, anaknya keliatan ogah2an gitu. Akhirnya sebelum mulai pelajaran, aku tanya dulu ke dia..
Nia: How do you feel?
N: (burst into tears)
Terus dia cerita kalo orangtuanya tuh nganggep dia bodoh banget di mat, padahal nilainya lumayan loh (70 sampe 80 gitu). Dia bilang kalo dia ga mau les, tapi ortunya bilang "We already paid her (gue)". Nah kan mampus gue jadi kambing hitam.
Akhirnya sih tetep les, tapi dari jatah 1,5 jam, biasanya dia les cuma 1 jam dan langsung mengusir gue secara halus. Contohnya, selesei bikin PR, dia bakal bilang
"It's done for today, bye!"
dan gue hanya bengong, lalu pergi.
Eh tunggu dulu, dia bukan ga suka sama gue, dia ga suka les matematikanya. hehe
Kalo lagi waktu istirahat, dia suka nunjukkin games nintendo nya ke gue dan excited bgt gitu jelasinnya.
Tapi, aku sendiri ngerasa ga sanggup untuk menuhin tuntutan orangtuanya. Orangtuanya minta gue ngajarin 3 materi dalam 1,5 jam (materi sebelumnya, materi yg sekarang dipelajari, materi yg akan datang) plus bantuin ngerjain PR. Agak 'gila' sih menurut gue, ditambah anaknya ga mau les. Terus, orangtuanya minta sekalian ngajarin persiapan tes-sesuatu-untuk-masuk-sekolah-di-Amerika yang membuat gue makin gila hahaha. Akhirnya, gue bilang ke atasan gue kalo aku cuma bisa ngajar sampai minggu ini. Kalo jahat sih, bisa aja gue terusin lesnya, toh untung di gue, dapet duit buat 1,5 jam tapi ngajarnya cuma 1 jam. Tapi yah itu bukan prinsip gue. hehe
Bersambung ke part 2 lalalala..
Langganan:
Postingan (Atom)





.jpg)
