Tampilkan postingan dengan label tutor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tutor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

Story of My Student - N -

Just call her N. She is one of my private student. She is on grade 8 now, in an international school in Jakarta. Yesterday should be the last day i teach her. But, unfortunately (or fortunately) i still have to teach her this semester.

I actually don't know how to teach her. Well, she is kind (i don't know how to explain her kindness), a bataknese too (same as me), rich (of course), and don't want to learn math. She always scream to her maid when she wants something, throws everything (including her Mac, iPhone, expensive books, and calculator), and wants a break every 15 minutes.

This is what i usually do when we have private teaching session: When i come to her house, she's still take a shower (or maybe she start take a shower when i come), and it waste 15 minutes. Her maid will give me a glass of mango juice when i'm waiting her. Then, i come to her bedroom. She will ask me if she can have 10 minutes to prepare herself. Then, she will start doing her homework, i will sit beside her and look at her homework, nodding if she does it well, talk to her if she gets wrong answer. Then, after 1 hour, she will say "It's done. Bye." or maybe just try to ask me to go home. 

Sometimes, i wonder if she hates me. I can't even tell her to study 1,5 hour. I sometimes don't understand the materials quickly and need time to understand it. I'm not from mathematics faculty, as her parents wish. So, i decided to tell my boss that i can't teach her anymore, i want her to have a better teacher who knows math very well and can fulfill her parents' expectation.

Yesterday, she told me that she gets B- on her test. For me and her, it is a good result, because she usually get C and she thinks this time she will get C again. She said to me that her friends who got B- too were very disappointed, but i said to her 'just don't listen to them'.
Then, in the end of lesson, i told her that next week she will be taught by another teacher from mathematics faculty. And you wanna know her reaction? She was so disappointed. When i said that it's her mother's choice to have a teacher from mathematics faculty, she said "but you're as good as them" and "I'll talk to my mom about it". 

So, i actually glad to hear that she likes me. Deep inside my heart, i worry if another teacher will treat her bad as the teachers before me. I worry if the new teacher can't listen to her, don't know what she needs. So that's why, i decided to keep teaching her. I hope the theories that i learned in psychology can help me to do my job.

But i'm worried about my psychological happiness for this semester..

Senin, 04 Februari 2013

So Hard and So Easy Becoming Private Teacher -part 2-

Nah, di part 1 kan udah cerita tentang murid pertama, sekarang murid keduaa. jeng jeng jeng

Murid kedua gue anak ekspatriat, mamanya Filipina, papanya New Zealand. Sebut aja nama anaknya Skye, tp biar gampang S aja ya. Umurnya 6 tahun dan mau masuk kelas 2, perempuan. S ini asalnya dari Auckland (kyaaa pengen bgt kesanaa!) tapi mamanya lagi ada kerjaan di Indonesia jadi mereka nyewa apartemen di Jakarta gitu.

Anaknya baiiik banget, cukup cerewet, dan cukup susah diatur juga. Tapi lucunya, kl lagi bercanda2 sampai ketawa ngakak, dia tiba2 suka peluk gue terus bilang "I love you". Lucu bangeeet!

Nah gue ngajar reading, writing, sama math gitu buat dia. Agak heran sih, soalnya kalau di Indonesia biasanya udah bisa baca tulis dari umur 5 gitu kan. Nah S ini, bahkan huruf b sama d masih suka kebalik. Hitung2an tambah sama kurang juga masih belum lancar. Dan, seperti kebanyakan anak-anak lainnya, S susah konsentrasi. Jadi akhirnya aku biasanya ngasih reward setiap dia bisa ngerjain tugas yang aku kasih, atau kasih tugas yang bikin dia banyak gerak. Contohnya, pas writing, aku minta dia bolak balik ke kamar mandi untuk liat benda apa yang bisa dia tulis di kertasnya. Terus, pas dia bisa nulis dengan rapi, aku minta dia tempelin stiker di kertasnya dan kasih liat mamanya. Jadi dia seneng gitu dipuji mamanya :D

Pernah ada kejadian, waktu itu pas gue ngajar tiba2 ada nenek2 di apartemen itu. Gue pikir itu mungkin grandma nya Skye. Terus gue nanya ke Skye
Gue : Skye, the woman there, is she your grandma?
Skye : No, she is my nana.
Gue : What is nana?
Skye : Nana is tita.
Gue: ??? What is Tita?
Skye: (ketawa) Tita is Nana
Gue : (nyerah) (diketawain)

dan sampai sekarang misteri Nana-Tita tersebut belum terpecahkan.

Oh iya, setelah ngajar anak lokal dan ekspatriat, aku ngerasa justru lebih dihargai oleh ekspatriat. Contoh sederhana, waktu ngajar N (anak lokal, SMP), aku duduk di kursi citos sementara dia duduk di sofa plus bantalan kaki (but i'm okay with that, cuma membandingkan kok). Sementara, waktu ngajar Skye (ekspatriat), waktu cuma ada 1 kursi komputer yang super nyaman n bisa diputer2 dan 1 bangku bakso, mamanya nyuruh aku duduk di kursi komputer itu, katanya " You're the teacher and she (Skye) is the student, so you're the one who should sit here." Keliatan banget ngehargain teacher nya.

Terus neneknya juga ngajarin skye buat menghargai aku sbg teacher and should call me Mam because i'm her mother at private class. Terharu deh jadinya :). Mamanya juga kasih makan siang pas harus ngasih extra time buat Skye. Sementara, di rumah N, gue harus nurutin apa yang diminta N, datang disambut dengan kesunyian di rumah, dan yah, justru gue lebih sering ngobrol ke pembantunya daripada ke ortunya ato N nya.

Tapi kedua pengalaman ngajar itu bener2 bikin aku makin kenal anak-anak dan dunia mereka, bikin aku tahu kenapa mereka bisa jadi diri mereka yang sekarang, dan tentu saja, belajar buat lebih bersabar :)




So Hard and So Easy Becoming Private Teacher -part 1-

Liburan semester 5 ini, setelah bersenang2 di Jogja, aku mulai kembali cari uang dengan jadi guru privat. Yeay!
Jujur aja sebenernya gampang banget untuk melamar jadi guru privat, banyak lembaga privat yang daftarnya tinggal pakai SMS atau email. Apalagi udah ada embel2 mahasiswa UI, lebih gampang lagi untuk diterima, bahkan ga jarang malah ditawarin.

Dari sekian banyak lembaga les privat yang aku daftar, ada satu lembaga yang cukup menggiurkan, sebut aja E. Di lembaga ini, guru privatnya dibayar minimal Rp 100.000 per pertemuan (include ongkos). Kalau di lembaga lain, biasanya Rp 80.000 per pertemuan dan udah sama ongkos. Tapi di lembaga yang menggiurkan ini, tutor nya harus ngajar dalam bhs Inggris, karena rata2 muridnya ekspatriat atau orang Indonesia yang sekolahnya di international school.

Nah, di lembaga privat ini, aku dikasih 2 murid untuk liburan kali ini. Murid yang pertama, sebut aja N. Dia kelas 2 SMP di suatu international school di Jakarta. Surprise Surprise, dia orang batak juga ternyata. Awal ketemu sama ortunya, ortunya cerita kalau N lemah banget di matematika. Terus ternyata orangtuanya pengen pengajar dari Matematika. Berikut diaolgnya:

Mamanya N (MN): Kuliah di UI ya? jurusan apa?
Nia (X): Psikologi, Tante.
MN: Oooh psikologi (nada ga enak, lirik gue bawah sampe atas), saya tadinya pikir dari matematika. Padahal kan saya mintanya dari matematika.
Nia (X): Oh gitu ya tante, maaf saya ga dikasih tau harus dari matematika soalnya tante.. (muka polos)

dan sejak saat itu aku mulai agak males ngajar anaknya. Ditambah lagi, pas pertama ngajar, anaknya keliatan ogah2an gitu. Akhirnya sebelum mulai pelajaran, aku tanya dulu ke dia..

Nia: How do you feel?
N: (burst into tears)

Terus dia cerita kalo orangtuanya tuh nganggep dia bodoh banget di mat, padahal nilainya lumayan loh (70 sampe 80 gitu). Dia bilang kalo dia ga mau les, tapi ortunya bilang "We already paid her (gue)". Nah kan mampus gue jadi kambing hitam.

Akhirnya sih tetep les, tapi dari jatah 1,5 jam, biasanya dia les cuma 1 jam dan langsung mengusir gue secara halus. Contohnya, selesei bikin PR, dia bakal bilang
"It's done for today, bye!"
 dan gue hanya bengong, lalu pergi.

Eh tunggu dulu, dia bukan ga suka sama gue, dia ga suka les matematikanya. hehe
Kalo lagi waktu istirahat, dia suka nunjukkin games nintendo nya ke gue dan excited bgt gitu jelasinnya.

Tapi, aku sendiri ngerasa ga sanggup untuk menuhin tuntutan orangtuanya. Orangtuanya minta gue ngajarin 3 materi dalam 1,5 jam (materi sebelumnya, materi yg sekarang dipelajari, materi yg akan datang) plus bantuin ngerjain PR. Agak 'gila' sih menurut gue, ditambah anaknya ga mau les. Terus, orangtuanya minta sekalian ngajarin persiapan tes-sesuatu-untuk-masuk-sekolah-di-Amerika yang membuat gue makin gila hahaha. Akhirnya, gue bilang ke atasan gue kalo aku cuma bisa ngajar sampai minggu ini. Kalo jahat sih, bisa aja gue terusin lesnya, toh untung di gue, dapet duit buat 1,5 jam tapi ngajarnya cuma 1 jam. Tapi yah itu bukan prinsip gue. hehe

Bersambung ke part 2 lalalala..